Demi Kesehatan Mental, Instagram Sembunyikan Jumlah Like

Demi Kesehatan Mental, Instagram Sembunyikan Jumlah Like
November 18, 2019 Dimas Darmawan

Platform media sosial seperti Instagram dan Facebook sedang melakukan berbagai kebijakan baru untuk meningkatkan performa mereka bagi penggunanya. Instagram, demi alasan kesehatan mental, melakukan ujicoba untuk menyembunyikan jumlah like pada akun penggunanya. Sementara pada Facebook, centang abu-abu untuk menandakan sebuah halaman bisnis atau organisasi dihilangkan.

Uji Coba Menyembunyikan Jumlah Like Instagram

Instagram sedang menguji coba kebijakan mereka untuk menyembunyikan jumlah like pada aplikasi mereka. Sebagian pengguna Instagram saat ini tidak dapat lagi melihat jumlah like yang didapatkan oleh pengguna lain selain dirinya sendiri. Hal ini didasari oleh isu kesehatan mental agar pengguna tidak lagi melihat jumlah like sebagai sebuah kompetisi, akan tetapi fokus pada konten yang menarik.

Kebijakan ini mendapatkan berbagai respon dari kalangan influencer (key opinion leader pada media sosial). Penyanyi internasional yang juga influencer, Nicki Minaj mengaku akan meninggalkan Instagram jika fitur like memang dihilangkan. Seperti halnya Nicki, penyanyi rap Cardi B juga tidak setuju karena dirinya merasa bahwa kolom komentar jauh lebih berbahaya dibandingkan jumlah like di Instagram.

Namun, kebijakan ini juga mendapatkan berbagai respon positif, misalnya dari Stephanie Tyler yang merasa hal ini baik bagi para kreator konten karena dapat menghilangkan pengguna yang membeli like dan follower di Instagram. Begitu pun Kim Kardashian yang menganggap kebijakan ini akan baik jika tujuannya adalah kesehatan mental dari penggunanya.

Di Indonesia sendiri, ada nama Nadya Hutagalung yang merespon positif kebijakan ini. Baginya, saat ini banyak influencer muda yang mengunggah konten yang tidak sesuai dengan etika dan moral demi mendapatkan jumlah like yang tinggi.

Perubahan Pengukuran Performa Influencer

Jika fitur yang sedang diuji coba ini memang diterapkan secara permanen, akan terjadi perubahan dalam industri pemasaran yang menggunakan jasa influencer. Penilaian terhadap performa influencer nantinya juga akan melibatkan aspek lainnya.

Tolok ukur pemasaran oleh merek atau organisasi tidak lagi hanya mempertimbangkan like, tetapi juga lebih menilai komentar dari pengguna akan lebih bernilai karena dapat dianalisis secara lebih baik reaksi positif ataupun negatifnya.

Agensi influencer bukan hanya manajemen bakat, melainkan juga akan menjadi platform berbasis teknologi. Mereka harus bisa mendapatkan data langsung dari Instagram dan melakukan perbandingan antara like, follower, dan video view. Hal ini tentu saja akan mengubah industri yang mengandalkan influencer ini, untuk bergerak ke arah yang lebih baik.

Metrik pengukuran performa influencer yang beralih menjadi hal yang lebih detail daripada jumlah like, menandakan bahwa agensi akan lebih memilih influencer dengan interaksi yang tinggi dengan audiensnya dibanding dengan influencer yang hanya memiliki like yang tinggi karena rentan terhadap manipulasi.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*